SAJAK RINDU LONTARA CINTA DARI SIDENRENG
Halo semua! Pada kesempatan kali ini kami sangat antusias untuk membagikan ulasan buku terbaru yang pastinya akan memikat perhatian Anda. Buku ini bukan hanya sekadar bacaan, tetapi juga mengandung banyak pelajaran berharga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Yuk, simak ulasannya.
Sajak Rindu Lontara Cinta dari Sidenreng
Karya S. Gegge Mappangewa
Menceritakan tentang kisah Vito, seorang remaja Bugis dari Desa Pakka Salo dalam mengemban rindu. Siapa gerangan yang ia rindukan? Berikut ulasannya~
Buku ini terdiri dari 36 bab dan 295 halaman. Tidak terlalu tebal, sehingga bisa dibaca dalam sekali duduk. Sesuai judul nya, Sidenreng, buku ini ditulis oleh orang Sidenreng itu sendiri. Banyak kearifan lokal masyarakat Bugis yang ada di Sidenreng, terutama Tolotang, disajikan dalam buku ini.
Bagian awal buku menceritakan tentang beberapa wanita Bugis yang tanpa disadari, melahirkan anak yang memiliki saudara kembar berupa reptil. Reptil itu keluar bersama bayi, tepatnya pada gumpalan-gumpalan darah saat persalinan. Tidak ada yang melihatnya langsung saat lahir karena reptil itu sangat kecil, menyerupai cecak. Biasanya semalam setelah melahirkan, sang anak reptil ini hadir dalam mimpi ibunya dan mengaku sebagai anaknya yang hidup di alam yang berbeda.
Apakah Vito merindukan kembaran reptilnya? Tidak. Vito punya kembaran manusia yang bernama Vino. Vino dibawa oleh ayah mereka saat masih kecil. Ya, orang tua Vito dan Vino sudah berpisah. Sehingga Vito tinggal bertiga dengan Ibu dan kakeknya. Kedua orang ini enggan berbicara jika berkaitan dengan Vino dan ayahnya. Saat ditanya, mereka hanya diam tidak menjawab. Hal ini membuat Vito memupuk rasa rindunya terhadap kedua orang yang lama tak ia jumpai.
Sampai pada akhirnya saat Vito ulang tahun, ibunya yang bernama Halimah, menceritakan tentang ayah dan Vino sebagai hadiah untuk Vito. Ternyata ayahnya bernama Ilham, seorang penganut kepercayaan Tolotang yang tinggal di Amparita. Tapi sebelum mereka menikah, Ilham sudah memeluk agama Islam. Awal perjumpaan, masalah-masalah yang mereka hadapi dan bagaimana mereka bisa menikah diceritakan oleh Halimah.
Ilham dan Halimah, orangtua si kembar, memutuskan untuk Silariang alias kawin lari karena tidak direstui. Halimah memilih untuk meninggalkan kampung halaman nya dan ikut bersama Ilham. Setelah pernikahan mereka, muncul bibit permasalahan. Ilham yang sudah memeluk agama Islam, tidak menjalankan syari'at dengan baik, ia bahkan tetap melakukan ibadah-ibadah Tolotang-nya seperti dulu. Masalah semakin besar ketika Ilham meninggalkan Halimah dalam keadaan hamil. Halimah kemudian bekerja di pabrik tripleks untuk menyambung hidup. Namun Halimah merasa ragu dapat bertahan hidup jika terus seperti itu. Dengan berat hati, Halimah pulang ke rumah orang tuanya. Halimah rela menahan malu atau bahkan mati, asalkan anak kembar dalam perutnya bisa selamat.
Singkatnya, kehidupan Halimah sudah mulai membaik, amarah ayah Halimah berangsur-angsur mencair, Vito dan Vino pun tumbuh kembang. Setahun kemudian, Ilham datang menuturkan sesal, berjanji menjadi suami yang baik dan tidak akan menelantarkan keluarga kecil tersebut. Namun janji hanyalah ucapan manis saja, Ilham kembali meninggalkan Halimah dan lebih sakit lagi, Ilham turut membawa Vino.
Setelah mendengarkan cerita tersebut, rasa rindu Vito semakin menggebu-gebu. Ia lalu meminta izin kepada ibunya untuk mencari ayah dan kembarannya tersebut di Amparita. Bulan Januari, dilaksanakan Pesta Perrinyameng, hari raya besar bagi penganut Tolotang. Vito berencana menemui mereka pada hari tersebut. Bagaimana kelanjutan ceritanya? Apakah Vito berhasil memecahkan celengan rindu dan bertemu dengan mereka? Temukan jawabannya dalam buku ini✨

Komentar
Posting Komentar