PEDAGOGY OF THE OPPRESSED (PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS )
Halo semua! Pada kesempatan kali ini kami sangat antusias untuk membagikan ulasan buku terbaru yang pastinya akan memikat perhatian Anda. Buku ini bukan hanya sekadar bacaan, tetapi juga mengandung banyak pelajaran berharga yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Yuk, simak ulasannya.
PEDAGOGY OF THE OPPRESSED (PENDIDIKAN KAUM TERTINDAS )
Buku dengan judul Pedagogy of the Oppressed yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Pendidikan Kaum Tertindas merupakan karya magnum opus (karya penting) dari Paulo Freire. Buku ini secara singkat membahas tentang pentingnya kesadaran dalam berpikir agar tidak mudah dimanfaatkan oleh orang lain. Buku dengan isi 220 halaman (tidak dengan pengantar) ini bergenre social science menjadi salah satu buku yang direkomendasikan (terkhusus) bagi mahasiswa yang berada di jurusan pendidikan.
Buku ini hanya terdiri dari 4 bab namun terdapat istilah-istilah yang mungkin sulit dipahami, bahasa yang digunakan pun rumit dan butuh waktu itu memahaminya. Melalui buku ini, Freire mengkritik keras model pendidikan gaya bank barat yang disebutnya sebagai alat penindasan. Sebagai solusinya, ia memperkenalkan konsep pendidikan hadap-masalah yang ia sebut sebagai alat pembebasan. Pendidikan gaya bank menganggap guru sebagai pengajar dan siswa yang diajar. Akibatnya siswa tidak menjadi individu yang pasif, tidak kritis, dan hanya menerima apa yang diberikan oleh guru sehingga mudah ditindas. Sedangkan pendidikan hadap-masalah adalah pendidikan yang didasarkan pada dialog dan pemecahan masalah bersama, di mana guru dan siswa dianggap sebagai subjek yang setara sehingga tidak terjadi hubungan hierarki antara guru dan siswa tersebut. Yang kemudian akan menciptakan individu yang aktif, kritis, dan mampu membebaskan diri dan lingkungannya.
Pilar utama dari pendidikan hadap-masalah adalah dialog. Di dalam buku ini, Freire menjelaskan bahwa dialog adalah sebuah bentuk kreasi; dialog tidak boleh digunakan sebagai instrumen bagi orang untuk mendominasi orang lain. Di dalam membangun dialog ada 4 hal penting yaitu cinta, kerendahan hati, keyakinan, dan harapan. Jika dialog gagal, maka berarti ada yang kurang dari syarat tersebut. Merayakan demokrasi namun membungkam masyarakat adalah sebuah lelucon; Menceramahi tentang humanisme namun meniadakan orang adalah sebuah kebohongan.
Buku ini seperti ada bumbu-bumbu komunis nya kan? Memang iya, saat itu Freire terpengaruh dengan gagasan Marx tentang perjuangan kelas, namun ia tidak fokus pada revolusi bersenjata melainkan pada revolusi kesadaran. Sehingga tidak heran jika bukunya dianggap berbahaya oleh pemerintah Brazil saat itu.

Komentar
Posting Komentar